Pemilu 2009

SAAT NYA BERBICARA

Beberapa wacana yang mengumandangkan mahalnya kursi senayan, sehingga rakyat kecil layaknya saya sulit untuk mendapatkan kesempatan mendapatkan satu kursi di lembaga Legislatif. Untuk ikut mendapatkan kursi di daerah pun sulit gimana mau di pusat. Uang bisa menarik suara, Uang dapat menarik dukungan, Uang dapat membeli suara di negeri Indonesia tercinta ini. Apakah kesadaran masyarakat tentang politik di Indonesia masih kurang, ataukah karena ketidak percayaan masyarakat akan pemimpinnya, yang jikalau terpilih nanti di atas akan banyak uang yang mengalir sehingga rakyat menggunakan momentum tersebut untuk mengeruk keuntungan baik secara pribadi ataupun secara kolektif.
Saat para calon Legislatif dalam memperoleh dukungan mengeluarkan banyak sekali biaya, maka bisa dipastikan saat terpilih nanti dalam kurun waktu 5 tahun para anggota legislatif setidaknya mencari modalnya supaya balik lebih besar. Tapi bukan suatu masalah besar jika mendapatkannya dengan cara sesui dengan Undang-Undang, Tetapi ironisnya di negara ini banyak cara yang di tempuh adalah dengan jalan pintas, yaitu dengan korupsi, kong-kalikong, kolusi, nepotisme. dan sudah menjadi rahasia umum hal tersebut sudah meraja lela bahkan sampai tingkat pedesaan.
Sudah negara miskin, para wakil rakyatnya tidak tau diri. Perkembangan sekarang ini sudah menuju ke arah perubahan walaupun masih banyak KKN yang tidak tercium oleh Hukum karena sulit di buktikan secara Hukum, tapi itu ada dan mengemuka di Masyarakat sekarang ini.
Contoh yang paling sederhana adalah penerimaan CPNS 2004 & CPNS 2008 banyak terjadi kecurangan, ada dengan cara menyuap ada pula mengedepankan kekerabatan. Memang belum terbukti secara Hukum, tapi saya harap kebusukan tersebut dapat segera terbongkar.
Rakyat Indonesia harus bijaksana dalam memilih dalam pemilu 2009, semisal dengan memilih caleg-caleg yang mempunyai misi yang mungkin untuk bisa direalisasikan. jangan hanya melihat dari misi yang sangat elok tapi bisa tidak program itu dilaksanakan sepenuhnya di Negara yang masih berkembang ini.
Kadang masalah parpol saja membuat tetangga depan rumah jadi musuh kita selama proses pemilu berlangsung, ironis memang di negara yang mayoritas Muslim ini.

Labels: ,