PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI KELAS RENDAH

Tahap-tahap Perkembangan Bahasa Anak

Kemampuan berbahasa merupakan suatu potensi yang dimiliki semua anak manusia yang normal. Kemampuan itu diperolehnya tanpa melalui pembelajaran khusus. Yang sangat menakjubkan ialah, dalam waktu yang relative singkat anak sudah dapat berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Bahkan sebelum bersekolah, ia telah mampu bertutur seperti orang dewasa untuk berbagai keperluan dan dalam bermacam situasi.
Saudara, kalau  kita amati, ternyata pemerolehan bahasa anak itu tidaklah tiba-tiba atau sekaligus, tetapi bertahap. Kemajuan kemampuan berbahasa mereka berjalan seiring dengan perkembangan fisik, mental,intelektual, dan sosialnya. Oleh karena itu perkembangan bahasa anak ditandai dengan keseimbangan dinamis atau suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari bunyi-bunyi atau ucapan yang sederhana menuju tuturan yang lebih komplek. Tangisan, bunyi-bunyi atau ucapan yang sederhana tak bermakna, dan celotehan bayi merupakan jembatan yang memfasilitasi alur perkembangan bahasa anak menuju kemampuan berbahasa yang lebih sempurna. Bagi anak , celotehan merupakan semacam latihan untuk menguasai gerak artikulatoris ( alat ucap ) yang lama-kelamaan dikaitkan dengan kebermakanaan bentuk bunyi yang diujarkannya ( Darjowidjojo. 1995 ).
Selanjutnya, bagaimanakah proses perkembangan kemampuan berbicara anak,  Untuk mempermudah Anda memahaminya, perkembangan bahasa anak itu akan disajikan dalam tahap-tahap berikut. Materi ini sebenarnya telah Anda peroleh sewaktu Anda di SPG. Oleh karena itu, penulis berkeyakinan bahwa Anda dapat memahaminya dengan mudah.

1.      Tahap Pralinguistik ( Masas Meraban )
Pada tahap ini, bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan anak belumlah bermakna. Bunyi-bunyi itu memang telah mempunyai vocal atau konsonan tertentu. Tetapi, secara keseluruhan bunyi tersebut tidak mengacu pada kata dan makna tertentu. Cobalah Anda perhatikan seorang bayi ketika mendekut atau berceloteh !.  Adakah menyerupai kata-kata tertentu ?. Tidak, bukan ! Oleh karena kitu, perkembangan bahasa anak pada fase ini disebut tahap pralinguistik !.
Fase ini berlangsung sejak anak lahir sampai berumur 12 bulan.
  1. Pada umur 0-2 bulan, anak  hanya mengeluarkan bunyi-bunyi refleksi untuk menyatakan rasa lapar,sakit, atau ketidaknyamanan.

yang menyebabkan anak menangis dan rewel; serta  bunyi vegetatif yang berkaitan dengan aktivitas tubuh seperti batuk,bersin, sendawa, telanan ( makanan ), dan tegukan ( menyusui  atau minum ). Umumnya bunyi itu seperti vocal dengan suara yang agak serak. Sekalipun bunyi-bunyi itu tidak bermakna secara bahasa, tetapi bunyi-bunyi itu merupakan bahan untuk tuturan selanjutnya.

  1. Pada umur 2-5 bulan, anak mulai mendekut dan mengeluarkan bunyi-bunyi vocal yang bercampur dengan bunyi-bunyi mirip konsonan. Bunyi ini biasanya muncul sebagai respon terhadap senyum atau ucapan ibunya atau orang lain.
  2. Pada umur 4-7 bulan, anak mulai mengeluarkan bunyi agak utuh dengan durasi ( rentang waktu ) yang lebih lama. Bunyi mirip konsonan atau mirip vokalnya lebih bervariasi. Konsonan nasal/m/n/sudah mulai muncul.
  3. Pada umur 8-12 bulan, anak mulai berceloteh. Celotehannya berupa  reduplikasi atau pengulangan konsonan dan vocal yang sama seperti/ba ba ba/, ma ma ma/, da da da/. Vocal yang muncul adalah dasar/ a/ dengan konsonan hambat labial /p, b/, nasal / m n,g/, dan alveolar/t,d/. Selanjutnya, celoteh reduplikasi ini berubah lebih bervariasi. Vokalnya sudah mulai menuju vocal /u/ dan / i/, dan konsonan frikatif pun seperti /s/ sudah mulai muncul ( Crystal, 1987,Stark,1981, dalam Darjowidjojo, 1995, Mc. Neil,1970 ).
2.      Tahap Satu-satu
Fase ini berlangsung ketika anak berusia 12-18 bulan. Pada masa kini, anak menggunakan suatu kata yang memiliki arti yang mewakili keseluruhan idenya. Tegasnya, satu-kata mewakili satu atau bahkan lebih frase atau kalimat. Oleh karena itu, frase ini disebut juga tahap holofrasis.

3.   Tahap dua- kata
frase ini berlangsung sewaktu anak berusia sekitar 18-24 bulan. Pada masa ini, kosakata dan gramatika anak berkembang dengan cepat. Anak-anak mulai menggunakan dua kata dalam berbicara. Tuturannya mulai bersifat telegrafik. Artinya, apa yang dituturkan anak hanyalah kata-kata yang penting saja, seperti kata benda, kata sifat, dan kata kerja. Kata-kata yang tidak penting, seperti halnya kalau kita menulis telegram, dihilangkan.

4.  Tahap banyak kata
fase ini berlangsung ketika anak berusia 3-5 tahun atau sampai mulai bersekolah. Pada usia 3-4  tahun, tuturan anak mulai lebih panjang dan tatabahasanya lebih teratur. Dia tidak lagi menggunakan hanya dua kata, tetapi tiga kata atau lebih. Pada umur 5-6 tahun, bahasa anak telah menyerupai bahasa orang dewasa. Sebagian besar aturan gramatika telah dikuasainya dan pola bahasa serta panjang tuturannya semakin bervariasi. Anak telah mampu menggunakan bahasa dalam berbagai cara untuk berbagai keperluan, termasuk bercanda atau menghibur ( Tompkins dan Hoskisson ).
Tahap-tahap perkembangan bahasa di atas, dilalui oleh semua anak di lingkungan bahasa tempat anak itu tinggal.

pada tahap-tahap perkembangan bahasa di atas, berkembang pula penguasaan mereka atas system bahasa yang dipelajarinya. System bahasa itu terdiri atas subsistem berikut :
    1. Fonologi, yaitu pengetahuan tentang pelafalan dan penggabungan bunyi-bunyi tersebut sebagai suatu yang bermakna.
    2. Gramatika ( tata bahasa ),  yaitu pengetahuan tentang aturan pembentukan unsur tuturan.
    3. Sematik leksikal ( kosakata ), yaitu pengetahuan tentang kata untuk mengacu kepada hal.
    4. Pragmatik, yaitu pengetahuan tentang penggunaan bahasa dalam berbagai cara untuk berbagai keperluan.
Sub-subsistem  di atas diperoleh anak secara bersamaan dengan keterampilan berbahasanya itu sendiri. Tentu saja , hal itu didapat tanpa dia sadari.

Labels: